Penarikan Pasukan AS dan Kesempatan Iran untuk Intervensi Militer di Afghanistan

Surat kabar Iran Jomhouri Islami pada hari Senin (19/07/2021) mengumumkan telah dibentuknya milisi pro-Iran di Afghanistan. Berita ini bertepatan dengan penarikan pasukan AS yang sedang berlangsung saat ini dari Afghanistan. Pembentukan milisi pro-Iran di Afghanistan ini mungkin akan menjadi pertanda buruk bagi  stabilitas keamanan di negara ini. 

Menurut surat kabar yang menjadi corong bagi kalangan konservatif Iran ini, milisi baru tersebut menggunakan nama berbahasa Arab, “Hashd Al-Shi'i” (Mobilisasi Syiah). Anehnya, milisi ini tidak menggunakan nama Persia, Dari atau Pashtun

Dan menariknya lagi, nama milisi ini dipinjam dari nama suatu milisi Iran di Irak, Al-Hashd Al-Sha'abi, yang membawahi di dalamnya beberapa milisi pro-Iran. Dan anehnya, milisi yang baru dibentuk ini secara eksplisit menggunakan kata sekte Syiah; nama yang sebenarnya sangat dihindari Teheran di masa lalu. Pelabelan syiah pada nama milisi ini menunjukkan sikap sektarianisme gerakan tersebut.

Merespons hal demikian, para pejabat Afghanistan dengan segera mengecam pembentukan milisi pro-Iran ini. Qasem Vafaizadah, kepala Kementerian Informasi dan Kebudayaan Afghanistan, mengatakan pada hari Senin: “Dengan konspirasi semacam ini, Iran akan membuat konflik di Afghanistan semakin rumit apalagi disertai dengan memprovokasi rakyat dan menciptakan ancaman keamanan, tetapi api konflik yang mereka tebarkan ini juga akan membakar Iran sendiri.” 

Vafaizadah menekankan: “Tidak ada ruang di Afghanistan untuk kelompok tentara bayaran seperti ini yang bertindak sebagai boneka orang asing.” Shah Hossein Mortazavi, penasihat senior Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, mengatakan bahwa Afghanistan tidak akan mengalami nasib yang sama seperti Suriah, Yaman, Irak dan Lebanon, dan bahwa "provokasi" Iran akan menemui kegagalan.

Iran memandang penarikan pasukan AS sebagai kesempatan untuk memperluas pengaruhnya di Afghanistan. Iran menggunakan kekosongan keamanan di negara itu untuk memperluas jejak militernya ke arah timur. Pada bulan April, Menteri Luar Negeri Javad Zarif menyambut baik rencana penarikan AS. Zarif menyebutnya sebagai “langkah positif.” Sambutan ini tentu menjadikan Iran salah satu aktor negara yang menyambut penarikan tentara AS karena itu menjadi kesempatan yang menarik. Namun, Zarif juga memperingatkan bahaya "kekosongan" keamanan pasca kepergian AS ini. Zarif bahkan menyebut bakal ada "perang baru di Afghanistan."

Zarif mungkin benar ketika bicara soal kekosongan keamanan dan potensi perang saudara yang akan kembali terjadi di Afghanistan. Namun, Teheran dapat bekerja dengan pihak berwenang di Kabul dan dengan tetangganya untuk membantu negara itu menjaga stabilitasnya. Berita minggu ini menunjukkan bahwa mereka telah memilih pendekatan yang berbeda. Pendekatan ini mirip dengan peran yang telah dimainkannya di Irak, Suriah, Lebanon dan Yaman. Iran akan mengeksploitasi perpecahan sektarian.

Sejak invasi AS ke Afghanistan pada tahun 2001, Iran telah menjadikan pengaruh dan kepentingan Amerika di negara itu sebagai alasan utama untuk mendukung kelompok-kelompok yang menentang kehadiran AS. Iran telah mendukung, misalnya, Al-Qaeda, kelompok lokal Afghanistan dan proksinya sendiri untuk melemahkan kepentingan AS, tanpa menghadapi pasukan Amerika dan NATO secara langsung. 

Lebih penting lagi, campur tangan Iran di Afghanistan telah merusak upaya pemerintah Kabul untuk menjaga perdamaian, keamanan dan stabilitas di negara itu, karenanya muncul reaksi dan kemarahan langsung minggu ini dari para pejabat Afghanistan sendiri terhadap aksi Iran tersebut.

Awalnya, intervensi Iran di Afghanistan — atau ekspor agenda revolusinya ke negara itu — bermula dari perekrutan warga baik dari Afghanistan langsung maupun dari pengungsi Afghanistan di Iran untuk menjadi anggota dalam milisi dan membantu perang Iran pada 1980-1988 melawan Irak. Sekitar 3.000 pejuang Afghanistan tewas dalam perang itu. Pasukan Quds Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) diberi tugas untuk mengekspor revolusi dan melatih rekrutan asing. Setelah berakhirnya perang Irak pada tahun 1988, para pejuang Afghanistan dinonaktifkan, dikirim kembali ke Afghanistan atau kemudian dimobilisasi untuk front baru yang dibuka Iran di Irak dan Suriah.

Kelompok Brigade Fatemiyoun  merupakan milisi paling terkenal yang terdiri dari tentara bayaran Afghanistan. Mereka didukung Iran untuk bertempur di Suriah. Pejabat Iran memang berusaha menghindari diri dari kelompok itu, tetapi sudah menjadi rahasia umum bahwa tentara bayaran ini direkrut, dilatih, dipersenjatai, dan didanai oleh Teheran. Jumlah mereka tidak diketahui secara pasti, tetapi diperkirakan antara 5.000 dan 30.000 (yang pertama adalah angka yang diakui oleh Iran sendiri). Namun pada Januari 2018, seorang pejabat Fatemiyoun mengatakan bahwa 2.000 dari kelompoknya telah tewas di Suriah dan lebih dari 8.000 orang terluka. Hal demikian menunjukkan bahwa jumlah total kelompok itu jauh lebih besar daripada yang diklaim Iran.

Iran memiliki lebih dari 3 juta pengungsi Afghanistan untuk direkrut menjadi pejuang. Mereka telah menggunakan kelompok itu sebelumnya dan memiliki potensi untuk mengerahkan lebih banyak pejuang kembali ke Afghanistan. Mereka telah memindahkan sekitar 3.000 pejuang Fatemiyoun dari Suriah ke Afghanistan.

Dalam wawancara TV Desember 2020, Zarif menyarankan para pejuang Fatemiyoun dapat membantu perang melawan ISIS di Afghanistan. “Mereka adalah pasukan terbaik dengan latar belakang militer dalam perang melawan ISIS,” katanya ketika mengusulkan agar pemerintah Afghanistan meminta dukungan mereka, tetapi sarannya ditentang oleh Kabul. Mungkin semua pihak di Afghanistan akan menentang pengerahan Brigade Fatemiyoun yang terkenal kejam atau kelompok lain yang didukung Iran, karena mereka khawatir gerakan kelompok ini akan berbasis sektarian. Kehadiran mereka hanya akan mengobarkan pertempuran intra-komunal.

Selain milisi sektarian baru, Teheran telah memperkuat penempatan militernya di sepanjang perbatasan Iran-Afghanistan sejak awal penarikan pasukan AS. Pasukan IRGC dan peralatan militer berat, serta aset angkatan udara, sedang dipindahkan ke perbatasan untuk menambah pasukan reguler dan penjaga perbatasan. Postur militer terbaru ini akan memungkinkan Iran untuk mengambil tindakan ofensif di Afghanistan setelah penarikan Amerika selesai pada 11 September.

Kelompok yang baru diumumkan ini mungkin hanya sekedar tameng untuk menyembunyikan identitas pasukan Brigade Fatemiyoun. Milisi ini dapat digunakan untuk mempelopori setiap serangan Iran ke Afghanistan, mirip dengan perannya di Suriah, misalnya.

Dengan dilantiknya Presiden terpilih Ebrahim Raisi yang dijadwalkan pada 5 Agustus, presiden garis keras ini mungkin ingin membangun kebijakan revolusionernya dengan menebarkan sayap pengaruhnya di Afghanistan. Karena mendapat dukungan dari pemimpin tertinggi dan Majlis radikal, Raisi tidak akan keberatan akan melebarkan sayap pengaruh Iran di negara ini. Terlebih lagi, Iran juga kemungkinan besar akan bekerjasama dengan Taliban untuk menancapkan rencana geopolitiknya di Afghanistan. 

Copyright 2021, Dialektika.or.id All Rights Reserved